Kumpulaningurip

Just another WordPress.com weblog

南山大学の大学祭

leave a comment »

Festival Kampus di Nanzan University.

Monggo yang mau melihat-lihat atau mau mencari sesuatu di bazarnya, silakan datang tanggal 31 Oktober ~ 3 Nopember 2009.

Ada juga kegiatan yang berhubungan dengan Indonesia, silakan klik di brosur besrikut.

南山大学祭

Written by Alumni Unesa

October 19, 2009 at 2:16 am

Si Buntung

leave a comment »

*Goenawan Mohamad*

JANGAN bicara kepada saya tentang jihad. Hari ini saya sudah tak tahu lagi apa maksudnya.

Tuan bisa berkata, jihad bukanlah kekerasan. Tapi berbareng dengan itu orang lain berkata jihad itulah yang membenarkan bila orang yang dianggap kafir atau murtad dibunuh. Tiap tafsir bisa dibantah tafsir lain. Kepada siapa saya bisa minta kata akhir tentang apa sebenarnya yang diperintahkan agama?

Maka jangan bicara kepada saya tentang jihad. Terorisme tak perlu dan tak bisa diterangkan dengan sabda atau fatwa. Bom yang diledakkan untuk membunuh dan bunuh diri itu justru mungkin akan lebih jelas bila dilihat sebagai sesuatu yang tak dapat diutarakan oleh (dan dalam) sabda dan fatwa.

Siapa yang melihat hubungan antara terorisme dan ajaran, apalagi ideologi, melupakan bahwa ada sesuatu yang lebih dahulu, dan lebih bisu, ketimbang ajaran dan ideologi—yaitu luka.

Yang menyedihkan dalam sejarah ialah bahwa luka itu tampaknya tak terelakkan. Akan ada selalu orang-orang buntung. Kata ini tak menunjukkan luka potong yang harfiah; di sini, ”buntung” adalah lawan kata ”beruntung”. Seorang teman di Bonn tadi pagi mengirim sebuah tulisan Hans Magnus Enzensberger dan di sana saya menemukan apa yang saya maksud. Dalam bahasa Jerman Enzensberger menyebut si buntung ”Verlierer”; dalam bahasa Inggris ”loser”.

Si buntung—dan ia tak hanya seorang—lahir dari semacam kecelakaan yang niscaya ketika manusia mengorganisasi dirinya sendiri. Enzensberger menyebut ”kapitalisme”, ”persaingan”, ”imperium”, dan ”globalisasi”, tapi kita bisa menambahkan bahwa terbentuknya negara-bangsa atau lembaga agama—bahkan dalam sejarah kota dan banjar—juga menyebabkan ada orang-orang yang terbuncang, tertinggal, kalah, bahkan separuh atau seluruhnya hancur. Mereka yang luka. Si buntung.

Sejarah juga mencatat, si buntung bisa memilih untuk menerima nasib. Si korban bisa menuntut pampasan. Si kalah bisa menunggu kesempatan lain. Tapi ada yang oleh Enzensberger disebut sebagai ”si buntung radikal”: ia yang mengisolasi diri, menjadikan dirinya tak kelihatan, merawat khayal atau phantasma-nya, menyimpan tenaga, dan menanti sampai saatnya datang.

Tapi saat itu bukanlah saat untuk menebus nasibnya yang parah. Si buntung radikal, menurut Enzensberger, mengatakan kepada dirinya sendiri: ”Aku buntung, dan tak bisa lain selain buntung.” Ia tak melihat hidupnya berharga, dan tak memandang hidup orang lain berharga pula. Maka ketika saat itu tiba dan ia menggebrak, si buntung siap membinasakan orang lain sekaligus dirinya sendiri.

Tapi agak berbeda dari Enzensberger, saya tak menganggap bahwa seluruh momen penghancuran itu sebuah pernyataan keberanian yang putus asa. Yang meledak juga bukan hasrat terpendam untuk mengekalkan ke-buntung-an. Bukankah pada saat itu, seperti dikatakan Enzensberger sendiri, akhirnya si buntung radikal bisa melihat dirinya jadi ”tuan dari hidup dan kematian”? Ia jadi seorang militan. Ia jadi subyek. Sejenak ia membebaskan diri dari statusnya yang celaka: untuk memakai kata-kata dalam sebuah sajak Chairil Anwar, ”sekali berarti, sudah itu mati.”

”Ber-arti”, atau mendapatkan harga dan makna, itulah yang diberikan oleh ajaran atau ideologi. Tentu saja karena ada kecocokan antara si buntung radikal dan ajaran atau ideologi itu: petuah dan petunjuk itu, tentang jihad atau perang, lahir dari tafsir yang diutarakan dari sebuah situasi luka.

Enzensberger memaparkan luka itu—dalam sejarah Islam—sebagaimana yang umumnya sudah diketahui. Jika ”Islam” adalah nama bagi sebuah peradaban, yang terjadi adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Enzensberger mengutip sajak penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), yang menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya ”tak memperoleh penghormatan dalam ilmu/tak menonjol dalam kriya dan industri”.

Yang kemudian berlangsung adalah Islam yang hanya memungut, cuma meminjam, dan tak bisa lagi memperbaharui. Terutama di dunia Arab, yang pada satu sisi bangga telah jadi sumber dari sebuah agama yang menakjubkan tapi di sisi lain terus-menerus menemukan kekalahan. Enzensberger menulis: ”Bagi setiap orang Arab yang peduli untuk merenungkannya, tiap benda yang kini hampir mutlak dipakai di kehidupan sehari-hari … mewakili sebuah penghinaan yang tak diucapkan—tiap kulkas, tiap pesawat telepon, tiap colokan listrik, tiap obeng, apalagi produk teknologi tinggi”.

Bahkan terorisme—dari gagasan, gaya, serta peralatannya—datang pada abad ke-20 dari ”Barat” yang mereka haramkan. Lingkaran setan tak dapat dielakkan lagi. Yang terpuruk jadi merasa tambah terpuruk justru ketika ingin membebaskan diri. Dalam lingkaran itu kebencian pun berkecamuk—gabungan antara kepada ”mereka” dan juga kepada diri sendiri. Tak mengherankan, di wilayah ini, si buntung radikal berkelimun.

Akankah ada pembebasan? Mungkinkah pembebasan? Saya percaya, jadi buntung bukanlah hukuman yang kekal. Tapi untuk itu agaknya diperlukan sebuah lupa. Si buntung perlu tak mengacuhkan lagi luka sejarah. Ia perlu melihat kekalahannya sebagai bagian dari pengalaman dan memandang pengalaman itu sebagai, seperti kata petuah lama, guru yang baik.

Tapi saya sadar, si buntung radikal akan sulit untuk bersikap demikian. Terutama ketika ia menerima ajaran bahwa lukanya adalah luka di luar sejarah. Maka bom diledakkan, surga yang kekal dijanjikan, jihad ke kematian jadi langkah awal dan akhir. Dan selebihnya beku.

~Majalah Tempo Edisi 3 Agustus 2009~

Written by Alumni Unesa

August 22, 2009 at 2:02 pm

Posted in Ibadah Sosial

Puasa Transformatif dan Fungsional

leave a comment »

*MAKSUN*

# Dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo, Semarang

Ada fenomena di masyarakat kita yang sangat menarik, karena lucu tapi
cukup berbahaya, yakni terpisahnya kesalehan individual dan sosial. Di
sisi lain, muncul pula simbol-simbol agama yang dijadikan garansi,
seolah-olah bila seseorang telah melakukan ritual keagamaan tertentu,
seperti salat, puasa, dan haji, ia merasa hidupnya sudah mendapat
jaminan kesucian, sampai-sampai nyaris boleh melakukan kekejian dan
kezaliman sosial. Karena itu, tidak jarang kita menjumpai seseorang yang
secara individual sangat saleh, akan tetapi secara sosial melakukan
tindak kekerasan, melancarkan aksi teror dan bom bunuh diri, seperti
para “pengantin” Noor Din M. Top itu.

Kini, dalam bulan Ramadan, umat Islam kembali diwajibkan menunaikan
ibadah puasa dan dianjurkan memperbanyak amal saleh. Seperti biasanya,
aktivitas keagamaan di bulan suci ini akan tampak semarak. Ramadan tetap
menjadi ajang tayangan televisi yang menyuguhkan nilai ritual-religius.
Mulai sahur, berbuka, bahkan sampai sahur kembali, acara televisi
diformat begitu rupa dengan aneka ceramah dan sinetron agama, bahkan
iklan pun dibungkus nilai-nilai ketuhanan.

Ironisnya, seiring dengan meningkatnya aktivitas keagamaan di negeri
ini, kian meningkat pula kualitas dan kuantitas tindak kriminal serta
negasi terhadap nilai-nilai moral di berbagai lapisan masyarakat. Hampir
setiap hari /headline/ media massa selalu dihiasi oleh berita-berita
kezaliman sosial, dari perampokan, pembunuhan, kekerasan politik, hingga
aksi terorisme. Lebih ironis lagi, banyak dari para pelaku tindak
kekerasan itu yang mengklaim dirinya sebagai muslim.

Nah, di bulan yang sarat ganjaran ini, kita harus mencermati kembali
“keberpuasaan” sekaligus keberagamaan kita selama ini, sehingga
puasa yang akan kita lakukan selama sebulan penuh benar-benar
transformatif dan fungsional. Ini sungguh penting, karena Nabi SAW telah
memberikan /early-warning/ bahwa “Sekian banyak orang menjalankan puasa,
akan tetapi mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga”.

*Pemahaman yang salah*

Ada sebuah penilaian bahwa perilaku seseorang itu ditentukan oleh
bagaimana ia memandang dan memahami ajaran agamanya. Penilaian itu,
secara teoretis dan intelektual, memperoleh legitimasi dari beberapa
tesis yang ditulis oleh para ilmuwan, semacam Max Weber, Clifford
Geertz, atau Robert N. Bellah. Para ilmuwan ini, misalnya, mengatakan
dan membuktikan bahwa perilaku sosial yang mendukung pertumbuhan usaha
modern selalu mempunyai akar-akar dalam ajaran agama yang melahirkan
dimensi moral dan etik. Ini berarti, keberhasilan dari sistem ekonomi
dan poli­tik bangsa sangat bergantung pada kuat dan lemahnya sistem
etika bangsa yang bersangkutan.

Di sinilah posisi agama cukup signifikan dan sentral, mengingat tak satu
pun agama yang dianut oleh manusia di muka bumi ini yang tidak
mengajarkan etika tentang bagaimana hidup yang baik, penuh cinta, kasih,
damai, dan sayang serta mengatur bagaimana cara berinteraksi dengan
sesamanya.

Persoalannya, ada pemahaman yang salah mengenai doktrin agama yang hidup
di masyarakat kita. Agama hanya dipahami sebagai pengatur perilaku
individu seseorang terhadap Tuhannya. Agama hanya dipahami untuk memuja
dan memuji keagungan Tuhan. Sehingga, segala sesuatu bisa dilakukan atas
nama dan demi keagungan Tuhan. Dari sini, muncul suatu sikap rasa takut
dan berdosa ketika melakukan larangan ritual yang bersifat vertikal
(/hablun minallah/). Tapi, anehnya, sikap keras itu tidak berlaku ketika
seseorang melakukan dosa-dosa sosial yang sifatnya horizontal (/hablun
minannas/).

Padahal, dalam agama, ketika seseorang telah berdosa secara individual
terhadap Tuhan, ia cukup memohon ampun (bertobat) dan berjanji tidak
akan mengulangi lagi perbuatannya. Tetapi, manakala melakukan dosa
sosial, misalnya terorisme, yang nyata-nyata merugikan banyak orang,
dosanya tidak akan diampuni sebelum meminta ampun dan mengakui atas
kezaliman sosial yang dilakukan.

Di sisi lain, agama tanpa tanggung jawab sosial sama saja dengan
pemujaan (/cult/) belaka. Tidak perlu seseorang berpuasa, misalnya, jika
tanpa dibarengi dengan tanggung jawab sosial. Sebab, agama bukanlah
pelarian semu dan dalih untuk mencari ketenteraman spiritual semata.
Agama juga bukan hanya menjadi urusan individu untuk mendapatkan
ketenangan dan menjadi media penebus dosa setelah bergelimang kezaliman.

*Fungsional*

Ibadah puasa memang dikenal dengan sifatnya yang sangat pribadi.
Artinya, berbeda dengan ritual yang lain, puasa adalah ibadah yang hanya
diketahui oleh pelakunya sendiri dan Tuhannya. Seseorang bisa saja makan
dan minum sepuasnya di kamar tertutup, misalnya, lalu keluar seraya
mengakui kepada publik bahwa ia tengah berpuasa.

Meskipun demikian, bukan berarti puasa hanya berdimensi
individual-teologis belaka tanpa dimensi sosial. Nabi SAW menegaskan:
“Betapa banyak orang berpuasa tapi sia-sia belaka, mereka tidak
memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga, lantaran
mengabaikan etika sosial atau melakukan dosa sosial.”

Artinya, jika sikap mudah mendakwa, memvonis, memprovokasi, meneror,
merasa paling benar dan suci, serta sikap kerdil lainnya terhadap sesama
masih saja subur dalam diri sang muslim, baik secara individual maupun
sosial, padahal sekali dalam setahun ia selalu berpuasa, puasa itu tak
akan membuahkan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga. Dan itu berarti
kekalahan bagi sang muslim, bukan keme­nangan.

Nah, dalam kehidupan masyarakat yang kini lebih didominasi corak
solidaritas organis, meminjam istilah Emile Durkheim, di mana hubungan
antarsesama lebih diorientasikan kepada /vested of interest/, maka
melalui ibadah puasa umat Islam dapat menarik tali hubungan sosial yang
sudah kebablasan itu ke dalam koridor yang harmonis atas dasar
persaudaraan kemanusiaan (/ukhuwah insaniyah/), kesamaan (/al-musawah/),
dan keadilan (/al-’adl/).

Ketika kualitas kesenjangan sosial cenderung menguat antarlapisan
sosial, dan orang-orang rentan teralienasi secara struktural dan
kultural, maka melalui ibadah puasa yang fungsional dan transformatif
umat Islam dituntut untuk mengembangkan kepedulian dan solidaritas
sosial yang manusiawi sebagai implementasi dari pesan luhur Nabi SAW:
“Tidak beriman seseorang jika dia tidur nyenyak karena kekenyangan,
sementara tetangganya dibiarkan menggelepar kelaparan.”

Dengan demikian, puasa transformatif-fungsional mendorong kita untuk
selalu introspeksi dan meningkatkan kualitas diri. Puasa transformatif
tidak hanya membudayakan puasa seremonial yang biasa dihiasi dengan
membludaknya budaya konsumerisme mengiringi buka puasa dan menjelang
hari raya. Puasa transformatif bukan hanya menciptakan pribadi yang
tahan lapar dan haus di kala siang, namun tanpa daya untuk mengubah diri
menjadi pribadi yang kukuh di saat Ramadan meninggalkan kita.

Puasa transformatif dan fungsional adalah puasa yang membuat kita lebih
baik dan tekun dalam beribadah dan beramal saleh, membuahkan /sense of
awareness/ terhadap si miskin dan kaum yang tertindas. Puasa
transformatif membuat si pelakunya bersikap moderat, humanis, inklusif,
dan antiterorisme.

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/21/Opini/krn.20090…

Written by Alumni Unesa

August 22, 2009 at 1:57 pm

Posted in Ibadah Sosial

Tagged with

Nasib Tuhan dan Rakyat Miskin

leave a comment »

Diambil dari:

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/03/09/150938/1096659/471/nasib-tuhan-dan-rakyat-miskin

Senin, 09/03/2009 15:09 WIB
Nasib Tuhan dan Rakyat Miskin
Jejen Jamaludin – suaraPembaca

Jakarta – Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika dengan tulisan ini dianggap kurang sopan. Atau setidaknya judul tulisan ini dianggap pemikiran liberal dan kurang sopan. Mungkin pembaca beranggapan bahwa ini adalah sensasi belaka. Semoga Allah SWT mengampuni kesalahan kita dalam mengapresiasi karya orang lain.

Sejujurnya saya akui judul tulisan ini bisa mengundang banyak kontroversial. Tapi, setidaknya sesuatu yang kontroversial biasanya menarik banyak perhatian. Mungkin tulisan ini hanya merupakan sebuah pandangan seorang anak manusia yang begitu ringkih yang dalam keringkihan dan ketidakberdayaannya mencoba untuk mengkritik realitas sosial.

Karena seperti yang diajarkan oleh dosen filsafat saya ajaran dari wahyu pertama itu adalah ajaran untuk melakukan kritik sosial. Perintah membaca pada Nabi SAW (Iqra) sebenarnya bukan perintah dalam artian membaca tulisan. Tapi, membaca realitas sosial Jahiliah pada saat itu.

Hal ini didasarkan atas beberapa pertimbangan. Pertama, Nabi itu seorang yang ummi maka tidak mungkin perintah membaca tulisan bisa dilaksanakan oleh Nabi. Kedua, Malaikat Jibril turun membawa wahyu tidak disertai dengan membawa lembaran-lembaran yang berisi tulisan.

Sejujurnya, terlalu kuat hasrat saya kali ini untuk menulis, sehingga dengan begitu saja dan dengan mudah terlahir beberapa goresan tinta. Anehnya lagi, sekarang-sekarang ini saya ingin menulis tema tentang spiritual kata kaum cendekiawan, atau tema kajian sufi kata teman-teman santri. Mungkin karena tema kesufian (tasawuf) sendiri sering diwacanakan bahkan tak jarang para kiai memperdebatkannya. Padahal sejatinya tasawuf itu rasa bukan logika yang seharusnya dihayati, direnungkan, dan dilaksanakan bukan dijadikan bahan perdebatan.

Sudah begitu jauhkah kita terasing dari salah satu sisi kemanusiaan kita (sisi ruhaniah), sehingga tema-tema spiritual kita jadikan tema fisikal. Atau mungkin karena cara keberagamaan kita yang memang cenderung berangkat dari hal-hal yang bersifat lahiriah (syariat) menuju hal-hal yang batiniah (marifat). Padahal kalau kita perhatikan Nabi Muhammad SAQ itu mengawali keberagamaannya dari hal-hal yang marifat menuju syariat.

Hal ini terbukti melalui peristiwa Isra Miraj, Nabi bertemu Allah terlebih dahulu (marifat) dan setelah itu Nabi diperintahkan untuk shalat (syariat). Tapi, biarlah demikian karena saya tidak hendak mengajukan sebuah tesis dengan mengharapkan adanya antitesis supaya terbentuk sebuah sintesis.

Hari itu, kebetulan saya mengikuti sebuah pengajian di Marhalah Mutaqadimah, mengaji kitab Fiqh as Sunnah magnum opus-nya Sayyid Sabiq, asal Mesir, yang konon menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz merupakan salah satu kitab fiqh terbaik. Tema pengajian saat itu adalah Iyadah al Maridh (menjenguk orang sakit) halaman 246 jilid I.

Ketika sampai pada hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, kontan kesadaran saya tersentak seolah baru siuman. Ada semacam getaran rasa tersendiri. Saya sendiri kurang begitu tahu perasaan teman-teman saat itu karena memang Pak Kiai menjelaskan hadits tersebut sebatas tinjauan fiqhtasawuf). Mungkin karena memang sedang mengaji kitab fiqh bukan tasawuf.

Kira-kira begini terjemahan hadits tersebut, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak berfirman “Wahai manusia Aku sakit tetapi kamu tidak pernah menjenguk Ku”. Manusia berkata, “Wahai Tuhan ku, bagaimana mungkin aku munjenguk Mu, sementara Engkau adalah Tuhan semesta Alam”. Allah menjawab “Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya hamba Ku si Fulan sakit sementara kamu tidak pernah menjenguknya, tidak tahukah kamu bahwasannya jika kamu menjenguknya niscaya kamu akan menemukan Ku dissiinya”. Terus demikian sampai Allah mempertanyakan kepada manusia kenapa tidak pernah memberinya makan dan minum tatkala Allah memintanya, dan terus begitu jawaban manusia. Kontan saat itu darah saya berdesir dengan cepat dan bulu kuduk pun terasa merinding. Tidak terbayang sama sekali kalau saya ditegur oleh Allah di hari kiamat dengan teguran demikian. Sulit sekali menggambarkannya.

Bagi saya hadits di atas seakan mengajarkan sebuah kearifan, kepedulian, kesalehan sosial dan kesadarn religius. Setiap hari sudah tak terhitung berapa banyak hamba Allah yang sakit tapi justru kita biarkan. Berapa banyak hamba Allah yang mengemis demi sesuap nasi dan seteguk air tapi justru kita abaikan. Kita cenderung menutup mata dari dari realitas-realitas kehidupan sosial. Kita terlalu asyik dan terlena dengan keindahan dunia yang sementara.

Mungkin kita melihatnya, mendengarnya, tapi hati kita diam seribu bahasa. Tak bergeming sedikit pun, tak terketuk sama sekali. Mungkin hati kita telah menjadi buta, tuli dan bisu serta lebih keras dari batu.

Kita anggap itu takdir mereka dalam kehidupan dunia. Itu perkara nasib baik atau buruk yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Kita anggap itu fenomena kehidupan. Kita annggap itu sebagai hal yang wajar dan lumrah dalam kehidupan. Sungguh kedunguan yang luar biasa. Semoga Allah swt mengampuni kita.

***

Hari ini budaya individualisme dan golonganisme sudah semakin merebak. Tidak hanya di perkotaan tapi juga di sebagian pelosok pedesaan. Sebuah evolusi sosial dan moral di negeri kita tercinta. Sehingga ketika ada tetangga yang sakit, baik sakit secara fisik atau ekonomi, kita tidak tergugah untuk menjenguknya. Seolah bukan sebuah kewajiban.

Kita biarkan dan kita terlantarkan. Kita egois dan kita apatis. Kita anggap mereka bukan kerabat kita, bukan family kita. Mereka bukan golongan kita dan yang lebih kita anggap mereka beda partai dengan kita. Padahal saat itulah kita dituntut untuk memperhatikan mereka karena Tuhan pun sakit ketika hambanya sakit. Tapi, justru malah kita biarkan dan kita terlantarkan.

Di negeri ini ada banyak hamba Allah yang terabaikan dan teraniaya. Bahkan pemerintah pun tak lagi peduli dengan nasib mereka. Bahkan kerap kali ketika kita naik sebuah bus kota atau kendaraan umum lainnya kita menemukan di antara saudara-saudara kita yang sedang mengamen dan mengemis. Mengais rezeki yang tidak seberapa demi sesuap nasi dan seteguk air putih. Tapi, apa yang kita lakukan saat itu?

Tak jarang sebagian di antara kita malah mengutuknya serta memakinya. Kita anggap mereka sebagai bagian dari orang yang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tak berwajah karena mereka sering mengemis. Kita posisikan mereka sebagai bagian dari para pendosa yang nista, kotor, dan menjijikan, yang tidak secara langsung memposisikan diri kita sebagai manusia yang paling saleh, paling suci, dan paling baik amalnya.

Atau ada di antara kita yang mau berbagi sedikit rezeki dengan mereka. Kita beri mereka uang recehan (ada yang 100, 500, atau paling gede 1000 rupiah), sembari menganggap bahwa itu adalah bagian dari amal saleh. Padahal nurani kita menyatakan bahwa kita pun merasa malu memilki barang yang demikian.

Maka tidak aneh jika di zaman sekarang banyak orang yang bersedekah dengan sejumlah uang recehan, pakaian bekas, dan makanan sisa, sembari beranggapan itulah amal shalih. Padahal Islam mengajarkan agar kita berderma dengan sesuatu yang terbaik dan masih kita cintai, bukan dengan sesuatu yang serba sisa yang, tidak secara langsung tanpa disadari menjadikan orang lain tak jauh beda dengan wadah sampah.

Tidak dapat kita sangkal bahwa penduduk negeri ini sudah semakin tersibukkan
dengan urusannya masing-masing. Orang kaya (kaum borjuis) terlalu sibuk
mengurusi uangnya, menghitung kekayaan dan aset perusahaannya sembari terus meningkatkan kesejahteraan pribadi, keluarga, dan golongan. Mereka terjebak dalam gaya hidup yang glamour, hedonis, individualis. Tak terlintas sedikit pun dalam benak mereka untuk berbagi dengan si miskin di pinggir jalan atau si gelandangan di kolong jembatan.

Ada pun di pihak lain, para pejabat, pemerintah dan elite politik tersibukkan oleh masalah jabatan, pangkat dan kedudukan, padahal seharusnya mereka berjuang untuk rakyat di negeri ini. Mereka seharusnya menjadi pelayan masyarakat. Tetapi, nyatanya mereka tidak pernah mau jadi pelayan. Selalu ingin dilayani dan dihormati oleh rakyat.

Sungguh seorang pelayan yang tidak tahu diri, melakukan kudeta, dan menjadikan diri sebagai raja. Maka tidak heran jika masalah kemiskinan adalah masalah sosial yang tidak pernah terpecahkan. Dari tahun ke tahun jumlahnya bukan semakin berkurang malah makin bertambah. Padahal sudah banyak sarjana yang mendapatkan berbagai penghargaan karena kemiskinan, karena pengemis, dan karena mereka yang jadi gelandangan.

Sungguh ironi. Semuanya hanya wacana belaka. Di samping itu, ada juga kelompok yang sibuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat di parlemen, mereka melakukan kampanye dengan yang tidak sehat, bukan karena melanggar aturan, tapi karena modelnya yang kampungan dan murahan.

Mereka membuat spanduk, kaos, dan kalender dengan poster dan jargon masing-masing ditambah lagi dengan janji manis yang selalu jadi pil pahit bagi rakyat. Padahal kalau kita boleh jujur, rakyat kita saat ini, terutama kaum miskin tidak membutuhkan spanduk, kalender, dan janji-janji manis. Akan tetapi mereka lebih membutuhkan uluran tangan kita, bantuan, perhatian, dan santunan.

Mereka butuh lapangan kerja. Mereka butuh sesuap nasi untuk menyambung kehidupan. Alangkah baiknya jika dana kampanye setiap caleg dialihkan untuk sesuatu yang jauh lebih berharga demi kesejahteraan rakyat jelata, dikumpulkan, dan dihimpun oleh lembaga tertentu dan disalurkan kepada mereka yang selalu mempertanyakan “apa besok makan”. Bukan pada mereka yang berkata “besok makan apa”.

Sementara itu di pihak lain, sebagian kaum elite agama (kiai atau ulama) selalu sibuk dengan ibadah-ibadah ritual yang sifatnya individual. Mereka terlalu asyik dan khusyuk dalam shalat dan munajatnya, sehingga umat pun terlantar dan terabaikan.

Mereka tenggelam dalam ibadah-ibadah ritual formal dan mengurusi hal-hal yang
bersifat lahiri semata. Mereka hanya bisa berbicara masalah shalat dan zakat tanpa disertai usaha penanaman nilai-nilai moral salat dan spiritualitas beragama pada masyarakat. Mereka hanya mengajarkan konsef sabar dan pasrah pada orang-orang miskin tapi tidak pernah mau berbagi. Padahal jika kita perhatikan sebagian dari mereka termasuk kalangan mampu dan berada tapi ternyata hedonisme dan kesenangan dunia menjebaknya.

Sebagian mereka hanya mampu mengutuk orang-orang yang tidak salat berjamaah, melalaikan salat, dari waktu yang semestinya, dan mencap orang yang demikian sebagai kaum yang mendustakan agama. Sejatinya dalam pandangan Dr Nurcholish Madjid, orang yang mendustakan agama bukan orang yang tidak melakukan salat berjamaah atau orang yang melalaikan salat dari waktunya, karena yang demikian jelas diampuni.

Apalagi ketika kondisi memaksa mereka berbuat demikian. Justru yang mendustakan agama adalah mereka yang berpaling adari nilai-nilai moral dan spiritual dalam salat. Salat mereka hanya sebatas lahiri belaka tidak sampai pada tataran batini (penghayatan ritual keagamaan). Sehingga kesalehan mereka hanya bersifat individual belaka dan tidak sampai pada tahap kesalehan sosial.

Agama kita ini adalah Islam yang artinya penyelamatan. Bukan salam yang artinya keselamatan. Dari segi penamaannya ada nuansa tersendiri dan ada semacam tuntunan untuk bergerak keluar menjadi penyelamat. Karena itu dalam firman Allah kita dapati bahwa Allah mencintai muhsinin (orang-orang yang berbuat baik) bukan hasinin (orang-orang yang baik).

Dalam sabda Nabi SAW pun kita temukan ungkapan yang senada dengan itu. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Jadi bukan seberapa banyak yang kita lakukan untuk diri kita. Tapi, seberapa banyak yang dapat kita lakukan dan kita berikan bagi orang lain. Meskipun substansinya tetap untuk kita.

Sungguh malang nasib rakyat kecil. Mereka makin tergusur dan terasingkan dari
percaturan dunia saat ini. Mereka adalah tanggungan kita sebagi orang yang mampu. Karena itu jenguklah mereka ketika sakit. Berilah mereka makan dan minum tatkala lapar dan dahaga. Berikan yang terbaik dan bukan sisa karena pada saat itulah Tuhan sakit, dan meminta makan dan minum pada kita.

Sekarang tidak terketukkah hati kita?

Jejen Jamaludin
Pesantren Perguruan KH Zainal Musthafa
Sukamanah Sukarame Tasikmalaya 46461
jensmoderat@yahoo.com

Written by Alumni Unesa

March 10, 2009 at 3:49 am

Beragama yang Tidak Korupsi

leave a comment »

Maret 8, 2008

Ini tulisan tentang Cak Nun beberapa tahun yang lalu. Isinya sangat bagus sekali untuk perenungan, setidaknya untuk saya pribadi. Semoga juga bermanfaat bagi anda yang kebetulan membacanya.

Emha Ainun Nadjib: BERAGAMA YANG TIDAK KORUPSI

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
“Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?”
Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.
“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.
“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.”

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang,
tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.
Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.

Written by Alumni Unesa

May 10, 2008 at 2:43 am

Posted in Uncategorized

Kita Ini Siapa?

leave a comment »

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=340402

Kamis, 08 Mei 2008,
Kita Ini Siapa?

Oleh Ahmad Tohari

Dalam epos Mahabarata, terdapat kisah dua raja, yakni Santanu dan Palasara. Pada suatu masa, kedua raja itu terlibat perang berkepanjangan sehingga kerajaan porak-poranda dan rakyat ikut menderita. Melihat kerusakan yang terjadi pada rakyat di kedua negara tersebut, Dewa pun turun. Apalagi yang menjadi sumber sengketa antara Raja Santanu dan Raja Palasara bukan masalah tapal batas atau semacamnya, melainkan seorang putri jelita yang bernama Dewi Lara Amis.

Dewa menyuruh kedua raja berhenti berperang. Mereka diminta mendekat, lalu Dewa berkata bahwa putri jelita yang mereka perebutkan adalah lambang kenikmatan dan tipu daya dunia. Maka, siapa yang menginginkannya berarti dia memilih kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Siapa yang menjauhinya berarti memilih samsara dunia, tapi bisa mencapai kenikmatan abadi.

“Nah, Santanu dan Palasara, silakan pilih mana yang kalian suka.”

Takut terdahului oleh lawannya, Santanu segera menjawab memilih Dewi Lara Amis. Santanu sadar sepenuhnya bahwa putri jelita itu adalah lambang kenikmatan dunia. Dewa mengabulkan. Dengan sadar pula, Palasara memilih samsara, yang berarti hidupnya akan penuh penderitaan.

“Baiklah,” kata Dewa. “Kalian telah memilih apa yang kalian sukai. Santanu, kelak keturunanmu akan dikenal sebagai masyarakat Kurawa. Negara mereka kacau dan rakyatnya sengsara karena para penguasanya adalah keturunanmu yang serakah dan lebih menyukai kenikmatan duniawi. Santanu, kelak lihatlah keturunan Palasara yang akan dikenal sebagai masyarakat Pandawa. Negara mereka bernama Amarta yang berarti abadi. Negara itu aman-makmur dan rakyatnya sejahtera karena para pemimpinnya keturunan Palasara yang berarti buah penderitaan. Tidak seperti engkau yang memilih kenikmatan hidup bersama putri jelita, Palasara memilih menunda kesenangan hidup demi kebahagiaan keturunannya….”

***

Itu cerita dalam Mahabarata yang cukup dikenal di Indonesia. Tapi tampaknya, Raja Palasara tidak melahirkan keturunan di negeri ini. Masyarakat yang mengamalkan “berakit-rakit dahulu berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian”, ternyata, tidak tinggal di Indonesia. Masyarakat seperti itu malah tinggal di Jepang, misalnya.

Jepang yang luluh pada 1945 akibat Perang Dunia II segera bangkit kembali dan menyamai Amerika, negara yang mengalahkannya hanya dalam waktu singkat. Seperti Palasara, pada awalnya orang Jepang pandai menunda kesenangan. Mereka mendahulukan kerja keras, membangun etos dan karakter bangsa, menyusun undang-undang yang keras, belajar dan belajar. Bekerja adalah kebahagiaan dan kebohongan adalah hal yang amat memalukan bagi mereka.

Di luar harapan, agaknya Raja Santanu-lah yang meninggalkan keturunan di negeri ini. Di sini santanuisme berbiak dengan amat subur. Banyak pemimpin yang mendahulukan kenikmatan dunia seperti Santanu menikmati kejelitaan Dewi Lara Amis. Akibatnya, muncul keserakahan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan biaya kenikmatan itu. Korupsi menjadi kejahatan yang membudaya dan dianggap biasa.

Banyak pemimpin yang korup dan hedonis pamer kemewahan di tengah masyarakat yang hidup pas-pasan atau bahkan miskin. Maka tak ayal, ulah mereka berusaha ditiru dan diteladani sehingga kemiskinan ikut berbiak menjadi kejahatan yang terus meningkat.

Saya sering tergoda pertanyaan, apakah palasarisme yang intinya adalah kesadaran hidup berkelanjutan dan selalu mengusahakan kebaikan bertentangan dengan Islam? Pertanyaan tersebut muncul karena 87 persen masyarakat kita muslim, tapi malah dikuasai santanuisme yang egoistis dan memuja kenikmatan dunia untuk masa kini dan di sini. Itu pertanyaan menarik dan kita harus menjawabnya bersama . Atau, apakah kita harus mengatakan apa adanya bahwa kita adalah Santanu-Santanu yang tak pernah tahu diri? Buktinya, banyak di antara kita hidup amat kemaruk dan korup, tak peduli akan nasib anak-cucu yang kita lahirkan sendiri?

Ahmad Tohari, penyair

Written by Alumni Unesa

May 10, 2008 at 2:34 am

Posted in Uncategorized

Tagged with

Hello world!

with one comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Written by Alumni Unesa

May 10, 2008 at 2:31 am

Posted in Uncategorized